Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Revisi Proposal Universitas PGRI Palembang

| September 27, 2020 WIB | 0 Views




BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Prabumulih adalah salah satu kota yang terdapat di Profinsi Sumatera Selatan. Kota Prabumulih secara umum di diami oleh etnik yang ada di wilayah sekitar, yakni Suku Enim, Suku Penesak, dan Melayu Palembang. Disamping itu juga terdapat etnis pendatang yakni Jawa, Batak, dan Tionghua. Dengan keberagaman tersebut menghasilkan berbagai seni budaya tradisional yang hidup dan berkembang di daerah tersebut seperti, musik Gamelan Prabumulih, musik Melayu, tari Emban Mangian, tari Sambut, dan sastra lisan seperti legenda cerita rakyat.

Disamping kesenian tradisi tersebut, juga berkembang berbagai jenis seni kreasi baru baik musik, tari, dan teater, yang merupakan pengembangan dari seni tradisioanal prabumulih yang digarap oleh seniman setempat. Salah satunya adalah kesenian teater moderen biasa juga disebut dengan teater transisi yang berangkat dari berbagai kearifan lokal cerita rakyat yang ada di Prabumulih seperti legenda goa sima, cerita legenda goa sima di interprestasi sutradara menjadi garapan teater bergendre teater dramatik, legenda goa sima bercerita tentang putri sima yang sangat cantik didusunnya putri,karna kecantikannya putri sima menjadi incara setiap pemuda didusunnya baikpun dusun tetangga, ayah dan ibunya merasa kuatir dengan kecantikannya karna putri sima menjadi rebutan. Meskipun demi kian putri sima selalu menjaga kecantikannya dengan mandi kembang disungai, saat putri sima melakukan mandi kembang datang seekor ular naga dan besar lalu melilit putri sima dan membawanya kedalam goa, ayah putri sima mencoba dan menantang ular naga untuk keluar dari goa, ular naga itu tidak menampakkan ujutnya sedikit pun. Dari cerita ini sutradara dalam garapan teater menjadi pusake kujur anjang-anjang, dikemas dalam bentuk teater Opera.

Dari wawancara dengan Rusli Priajdi (50th) yang merupakan seniman senior Prabumulih menyatakan bahwa animo masyarakat terhadap seni budaya saat ini di Prabumulih terutama generasi muda sangat tinggi, sehingga banyak anak muda yang bergabung dan belajar pada komunitas dan sanggar seni yang ada di prabumulih seperti sanggar Tosanda dan sanggar Bungarang. Salah satunya yang menarik perhatian generasi muda adalah seni teater, hal itu dapat terlihat dari banyaknya kelompok teater yang ada, baik di sekolah maupun di luar. Keinginan untuk ikut dalam kelompok teater ini termotivasi dari seringnya kelompok teater prabumulih yang mendapatkan prestasi pada berbagai even seni budaya tingkat profinsi ( 03 januari 2020).

Teater pada awalnya merupakan ritual keagamaan yang dilakukan manusia untuk menghormati dewa dan roh para leluhurnya dengan peniruan alam seperti binatang, api, matahari dll . Seiring perkembangannya, pertunjukan ini mulai menunjukan bentuk karena telah adanya aturan yang diberlakukan pada pementasan. Manusia kemudian melengkapinya dengan dialog untuk menyampaikan pesan kepada penontonnya. Sejarah teater kemudian berlanjut pada penghadiran naskah lakon yang kemudian dipentaskan oleh aktor dalam kemasan artistik di atas panggung.  Teater merupakan organisme yang sangat kompleks.  Disamping naskah lakon, juga ada penataan artistik, gerak, dan musik serta kehadiran aktor yang sangat mempengaruhi pertunjukan teater.

Perkembangan dan eksistensi seni dalam masyarakat tentunya ditunjang oleh peran lembaga masyarakat dan kelompok sanggar yang ada. sannggar merupakan sebuah wadah untuk mengembangkan bakat keterampilan seni, sebagai penguat identitas budaya, dan pelestarian seni budaya. Salah satu kelompok sanggar seni yang cukup konsen dalam pelestarian budaya dan eksis berkarya khusunya teater di prabumulih adalah kelompok “Tim Seni Pabumulih” yang dikelola oleh pemerintah kota prabumulih yang dibina oleh Hj Suryanti Ngesti Rahayu. Kelompok ini merupakan andalan Prabumulih untuk bersaing dan mengharumkan nama kota Prabumulih di berbagi even seni budaya di Sumatera Selatan. Kelompok ini sering mendapatkan prestasi juara di berbagai kategiri pada tingkat provinsi khususnya seni teater. Terkait dengan itu Rusli menjelaskan bahwa kelompok “Tim Seni Pabumulih” adalah langganan juara pada festifal Sriwijaya, dan sampai saat ini sudah 7 kali berturut mendapatkan juara untuk kategori seni teater (03 Januari 2020).

Salah satu karya teater yang menarik dari kelompok “Tim Seni Prabumulih” adalah berjudul “Pusake Kujur Anjang-Anjang”. Karya ini dibuat tahun 2016, disutradarai oleh Rusli Priadi yang juga merupakan instruktur dari kelompok “Tim Seni Parabumulih”. Karya “Pusake Kujur Anjang-Anjang” ini berangkat dari sastra lisan yang sudah menjadi legenda bagi masyarakat Prabumulih.

Dari uraian fenomena eksistensi pertunjukan teater di kota Prabumulih di atas, banyak hal yang menarik untuk di teliti, namun pada kesempatan ini penulis memfokuskan pada bentuk pertunjukan teater yang meliputi meliputi Konsep Plot, Karakter, Setting, Dialog, Tema/amanat, Musik, Tata artistik. Untuk itu penulis mengajukan tema penelitian “Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Karya Sutradara Rusli Priaji Dalam Lakon “Pusake Kujur Anjang-Anjang” Kota Prabumulih”

Fokus dan Subfokus Penelitian
Agara tidak terjadi penyimpangan dari masalah penelitian yang peneliti lakukan, maka perlu adanya fokus dan subfokus dalam penelitian ini sebagai berikut:
  • Fokus pada penelitian ini yakni Teater Daerah Kota Prabumulih dengan naskah lakon Pusake Kunjur Anjang-anjang yang disutradarai oleh Rusli Priaji.
  • Sup fokus pada penelitian ini yakni Bentuk Penyajian Pertunjukan Teater Daerah meliputi Plot, Karakter,Setting, Dialog, Tema/amanat, Musik, Tata artistik

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diuraikan identifikasi masalah penelitian ini bagaimanakah “Bagaimanakah Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Anjang-Anjang?”, Plot/Alur/Lakon atau Cerita, Karakter / Perwatakan dan Tokoh, Latar Ruang dan Waktu ‘Setting’, Dialog, Tema dan Amat.

Berangkat dari Tatar belakang permasalahan di atas, sangat menarik untuk dikaji dan diteliti. Adanya pengkajian ini akan dapat memberikan pengetahuan terhadap Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Anjang-Anjang Permasalahan muncul dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :

Apakah yang melatar-belakangi munculnya ide garapan pada Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Ajang Ajang di Kota Prabumulih Propinsi Sumatra Selatan.

Bagaimana struktur Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Ajang Ajang meliputi unsur-unsur teater, Plot/Alur/Lakon atau Cerita, Karakter / Perwatakan dan Tokoh, Latar Ruang dan Waktu ‘Setting’, Dialog, Tema dan Amat.. Di Kota Prabumulih Propinsi Sumatra Selatan.

Tujuan Penelitian

secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendokumentasikan tentang Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Anjang-Anjang. Sesuai dengan rumusan masalah dan secara khusus penelitian ini bermaksud untuk mengetahui tentang Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Anjang-Anjang, terdiri dari: Plot/Alur/Lakon atau Cerita, Karakter / Perwatakan dan Tokoh, Latar Ruang dan Waktu ‘Setting’, Dialog, Tema dan Amat.

Manfaat Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian maka manfaat penelitian ini adalah:
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang teater, Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Anjang-Anjang Penelitian ini juga menjadi acuan bagi masyarakat, budayawan, seniman, Sutradara, aktor, geneasi muda, pendidik, dan mahasiswa dalam mengetahui Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Anjang-Anjang.

Sebagai dokumentasi dalam bentuk arsip yang diperuntukan bagi pemerintah kota palembang khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata  Kota Palembang. Untuk mengembangkan promosi teater daerah setempat dan budaya daerah.

Untuk mengisi keterbatasan informasi tentang Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Anjang-Anjang.

Bagi peneliti, dapat dijadikan pengalaman untuk mengetahui salah satu seni kebudayaan yang ada di daerah setempat.


BAB II

LANDASAN TEORI

Tinjauan Pustaka

Dalam penulisan proposal ini penulis menggunakan tinjauan pustaka diantaranya: Seni, Seni teater, Jenis teater, Fungsi teater, Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Anjang-Anjang, Kajian terdahulu yang relevan dan Kerangka konseptual.

Pengertian Seni

Menurut Tolstoy (dalam Bahari, 2012:65) Seni adalah membangun perasaan yang dialami, lalu dengan perantaraan garis, warna, bunyi atau bentuk, mengungkapkan apa yang dirasakan sehingga orang lain tergugah perasaanya secara sama. Menurut Geertz ( dalam Simatupang, 2013:275)  bahwa seni  merupakan sebuah sistem budaya, maka artinya nilai-nilai rasa (estetis) tersebut diberikan, dilekatkan, dibiasakan oleh masyarakat sebagai semacam pedoman interaksi bagi pribadi-pribadi warga masyarakat.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas seni merupakan suatu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang dengan adanya membangun perasaan yang mempunyai nilai-nilai estetis sebagai pedoman interaksi bagi warga masyarakat.

Seni Teater

Istilah teater yang digunakan di sini memang berbeda dengan pemahaman kata sandiwara (yang selama ini dianggap sebagai sinonimnya) atau kata sendratari yang lebih berkonotasi tradisional. Teater adalah cabang kesenian yang lahir pada masa Yunani klasik, yang diambil dari kata theaomai (melihat) (Dahana, 2001:12). Pada masa itu, sekitar 500 tahun SM, teater dimainkan di atas altar oleh pendeta-pendeta dan salah satu adegannya adalah upacara memberi kurban pada dewa. Hingga kemudian bentuk itu berubah pada masa Athena, dimana kurban diganti oleh peran antagonis yang dihukum atas dasar kehendak masyarakat dan mati bagi semua orang (Oemardjati, 1971:14).

Teater pada awalnya merupakan ritual keagamaan yang dilakukan manusia untuk menghormati dewa dan roh para leluhurnya. Dari ritual tersebut lahir bentuk-bentuk petunjukan yang dilakoni oleh masyarakat primitif hingga mencapai suatu kondisi klimaks. Pertunjukan ini bisa berupa gerakan-gerakan yang meniru alam seperi binatang, api, air dan lain-lain.

Seiring perkembangannya, pertunjukan ini mulai menunjukan bentuk karena telah adanya aturan yang diberlakukan pada pementasan. Manusia kemudian melengkapinya dengan dialog untuk menyampaikan pesan kepada penontonnya. Sebelumnya gerak tiruan alam, musik dan topeng hanya digunakan untuk upacara menurunkan hujan, meningkatkan hasil panen, dan upacara inisiasi. Upacara tersebut juga dilengkapi dengan berbagai perlengkapan atau properti seperti topeng ataupun kostum-kostum yang menyerupai binatang dan lain-lain.

Sejarah teater kemudian berlanjut pada penghadiran naskah lakon yang kemudian dipentaskan oleh aktor dalam kemasan artistik di atas panggung.  Teater merupakan organisme yang sangat kompleks.  Disamping naskah lakon, juga ada penataan artistik, gerak, dan musik serta kehadiran aktor yang sangat mempengaruhi pertunjukan teater.

Aktor merupakan elemen penting dalam sebuah pertunjukan teater. Aktor akan belajar bagaimana akting mampu merepresentasikan nilai-nilai yang dikandung dalam sebuah naskah drama. Aktor harus mampu mengantisipasi perubahan-perubahan peristiwa, laku dan sikap untuk kemudian menghadirkan perubahan-perubahan akting. Ekspresi baru akan hadir secara timbal balik dan mempengaruhi perkembangan konvensi dan gaya individu.

Denis Diderot, pemikir Perancis abad XVIII, menyebutnya sebagai the paradox of the actor.  Konsep ini menyebutkan bahwa ketika seorang aktor mampu menyempurnakan perannya, hal itu berarti bahwa ia mampu menghidupkan tokoh dengan wataknya, dan topeng atau perannya menghadirkan sebuah kehidupan, sementara sipelaku yang sebenarnya tidak menampakkan kehidupannya (Yudiaryani, Panggung Teater Dunia, 2002:10).

Jenis Teater

Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat, dinamakan teater bangsawan. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis, meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan.

Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. Selain pengaruh dari teater bangsawan, teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta).

Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891, yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa), yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. Dilihat dari segi sastra, mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno, pada tahun 1901. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda, Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913), dan lain-lainnya, yang menggunakan bahasa Melayu Rendah.

Setelah Komedie Stamboel didirikan muncul kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain, seperti Opera Stambul, Komidi Bangsawan, Indra Bangsawan, Sandiwara Orion, Opera Abdoel Moeloek, Sandiwara Tjahaja Timoer, dan lain sebagainya. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan.

Bentuk Penyajian Teater

Banyaknya ragam budaya etnik menjadikan cara penyampaiannya dilakukan dengan berbagai cara dan gaya yang berbeda-beda. Namun, secara umum, cara penyajian teater tradisional diberbagai daerah hampir serupa. Dari segi penyajian, ada tiga macam carapenyajian teater tradisional, yaitu dengan cara dituturkan, dipertunjukkan, dan dituturkan dengan peragaan.

Unsur-unsur Pertunjukan Teater

Dalam pertunjukan tim seni Prabumulih yang berjudul “Pusake Kujur Anjang-Anjang”. Karya dan Sutradara oleh Rusli Priadi. Peneliti mencoba melihat dari unsur-unsur pertunjukan teater untuk melakukan opserpasi pada struktuk pementasan.

Plot/Alur/Lakon atau Cerita

Menurut Asmara (1979:55) lakon dalam drama disusun atas unsur-unsur yang sama dengan novel atau roman: karakterisasi, plot, dialog, penempatan ruang dan waktu dan penafsiran hidup. Plot dan karakterisasi merupakan unsur pokok yang istimewa. Lakon drama  yang baik selalu mengandung konflik, karena memang sebagian besar inti drama adalah konflik-konflik. Darama itu selalu mengambarkan pertentangan-pertentangan di dalam suatu kehidupan. Dengan dimulainya suatu koflik itu berarti pula dimulainya suatu lakon drama yang sebenarnya (plotnya) dan dengan penyelesaian dari konflik itu, maka berakhirlah lakon tersebut (Subriadi, 2013:67). Nugroho (2018:76) mengatakan bahwa Alur atau plot merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah pertunjukan teater. Sebagai bentuk perwujudan melalui sebuah naskah laludivisualisasikan dalam wujud lakon di atas pentas.

Karakter/Perwatakan dan Tokoh

Tokoh-tokoh yang telah dipilih oleh pengarangnya biasanya telah dipersiapkan sedemikian rupa. Memang sewaktu karya drama ditulis kemungkinan untuk melencengkan pengambaran tokoh yang telah dipersiapkan itu dapat saja terjadi. Akan tetapi, bagaimanapun pengarang agar tetap menjaga agar keluar jalusnya sang tokoh tetap tidak terlalu jauh. Bukankah tokoh yang dihadirkan harus memiliki beban dalam membangun permasalahan-permasalahan atau konflik-konflik dalam drama. Jika pengarang membiarkan sang tokoh terlalu mandiri dan bergerak sebebasnya, maka obsesi tertentu yang ada di dalam diri pengarang sewaktu mempersiapkan karya drama akan buyar dan akan digantikan dengan obsesi yang lain (Subriadi, 2013:75).

Latar Ruang dan Waktu

Unsur-unsur tidak kalah penting dalam penyelenggaraan sebuah drama ialah tempat. Tanpa tempat tidak mungkin naskah atau cerita dapat dipentaskan. Dilihat dari kegunaannya tempat harus memiliki dua syarat, yakni (1) tempat untuk bermainnya para pendukung cerita dan (2) tempat para penonton yang menyaksikan pertunjukan ( surianto, 1982:72). Selain di atas untuk mewujudkan suatu pementasan cerita lakon drama dibutuhkan suatu pengambaran yang sanggup mencerminkan di mana lakon yang sedang dinikmati itu terjadi (Subriadi, 2013:77).

Dialog

Penampilan dari suatu cerita lakon drama didukung sepenuhnya oleh dialog ( dan juga gerak ) yang terdapat antara pemain tokoh dalam lakon yang bersangkutan. Dialog-dialog yang dilakukan haruslah mendukung karakter dan melaksanakan plot dari lakon. Melalui dialog-dialog yang terjadi antara para pemain, pemeranan inilah penonton akan bisa mengerti cerita lakon yang disaksikannya. Penonton akhirnya dapat menangkap dan mengartikan kejadian yang dihidangkan oleh gerak dan laku saja, tetapi hal-hal yang tersirat di balik percakapan antara pemain. Oleh kerena itu percakapan dalam suatu penampilan lakon haruslah benar-benar dijiwai dan sanggup mencerminkan sesuatu keadaan atau suasana. Percakapan ini harus berkembang mengikuti suasana konflik yang terdapat dalam lakon yang juga berkembang dalam suatu tingkatan-tingkatan yang pasti (Subriadi, 2013:78).

Tema dan Amanat

Menurut Hasanuddin ( 1996: 103 ) tema dan amanat dapat dirumuskan dari berbagai peristiwa, penokohan dan latar. Tema adalah inti permasalahan yang hendak dikemukakan pengarang dalam karyanya. Oleh sebab itu, tema merupakan hasil konklusi dari berbagai perisriwa yang terkait dengan penokohan dan latar. Amanat merupakan opini, kecendrungan, dan visi pengarang terhadap tema yang dikemukakannya. Amanat di dalam drama dapat terjadi lebih dari satu, asal kesemuanya itu terkait dengan tema. Pencarian amanat pada dasarnya indentik atau sejalan dengan teknik pencarian tema (Subriadi, 2013:79).

Berdasarkan pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa Plot/Alur/Lakon atau Cerita, Karakter / Perwatakan dan Tokoh, Latar Ruang dan Waktu ‘Setting’, Dialog, Tema dan Amat, itu memiliki fungsi dan kegunaan masing-masing yang dapat membentuk sebuah pertunjukan karya seni kepada penonton menjadi lebih sempurna, baik dengan bentuk penyajian yang disajikan maupun tarian yang diberikan serta pesan normal yang disalurkan melalui penyajian tersebut. Pementasan yang dilakukan pada Karya Sutradara Rusli Priaji mengunakan panggung Prosenium.

Sutradara

Di Indonesia penanggung jawab proses transformasi naskah lakon ke bentuk pemanggungan adalah sutradara yang merupakan pimpinan utama kerja kolektif sebuah teater. Baik buruknya pementasan teater sangat ditentukan oleh kerja sutradara, meskipun unsur–unsur lainnya juga berperan tetapi masih berada di bawah kewenangan sutradara.

Sebagai pimpinan, sutradara selain bertanggung jawab terhadap kelangsungan proses terciptanya pementasan juga harus bertanggung jawab terhadap masyarakat atau penonton. Meskipun dalam tugasnya seorang sutradara dibantu oleh stafnya dalam menyelesaikan tugas-tugasnya tetapi sutradara tetap merupakan penanggung jawab utama. Untuk itu sutradara dituntut mempunyai pengetahuan yang luas agar mampu mengarahkan pemain untuk mencapai kreativitas maksimal dan dapat mengatasi kendala teknis yang timbul dalam proses penciptaan. Sebagai seorang pemimpin, sutradara harus mempunyai pedoman yang pasti sehingga bisa mengatasi kesulitan yang timbul. Menurut Harymawan (1993) Ada beberapa tipe sutradara dalam menjalankan penyutradaraanya, yaitu:
  • Sutradara konseptor. Ia menentukan pokok penafsiran dan menyarankan konsep penafsiranya kepada pemain. Pemain dibiarkan mengembangkan konsep itu secara kreatif. Tetapi juga terikat kepada pokok penafsiran tsb.
  • Sutradara diktator. Ia mengharapkan pemain dicetak seperti dirinya sendiri, tidak ada konsep penafsiran dua arah ia mendambakan seni sebagai dirinya, sementara pemain dibentuk menjadi robot – robot yang tetap buta tuli.
  • Sutradara koordinator. Ia menempatkan diri sebagai pengarah atau polisi lalulintas yang mengkoordinasikan pemain dengan konsep pokok penafsirannya.
  • Sutradara paternalis. Ia bertindak sebagai guru atau suhu yang mengamalkan ilmu bersamaan dengan mengasuh batin para anggotanya.Teater disamakan dengan padepokan, sehingga pemain adalah cantrik yang harus setia kepada sutradara.

Peranan Aktor Dalam Proses Produksi
Aktor dan sutradara bekerja sama dalam latihan untuk menciptakan sebuah pengalaman hidup yang fiktif menjadi sebuah realita bagi para penonton. Didasari oleh konsep sutradara, atau apa yang di inginkan sutradara untuk terjadi di atas panggunng atau di depan camera, aktor mengaplikasikan penafsirannya dengan memakai pengalaman hidup yang dimiliki serta teknik-teknik akting yang sudah dia mengerti. Tentu sebagai seorang aktor, dia patut memiliki pengalaman hidup yang dalam serta wawasan yang luas mengenai kehidupan itu sendiri.  (Sitorus, 2003:15).

Kajian Terdahulu Yang Relevan

Penelitian yang relevan ini pernah ditulis oleh Rizki Destia Putri Mahasiswi Jurusan Program Studi Pendidikan Sendratasik tahun 2013 dengan judul skripsi "Struktur Pertunjukan Teater Tradisional Dulmuluk pada Sanggar Harapan Jaya Kota Palembang". Persamaannya yaitu mengkaji tentang Teater Tradisional, sedangkan perbedaan yang dilakukan oleh Rizki Destia Putri dengan penulis adalah objek yang diteliti oleh Rizki Destia Putri adalah struktur Pertunjukan Teater Tradisional Abdulmuluk pada Sanggar Seni Harapan Jaya di kota Palembang, sedangkan penulis menganggkat Bentuk Pertunjukan Teater Karya Sutradara Rusli Priaji Dalam Lakon “Pusake Kujur Anjang-Anjang” Kota Prabumulih.

Selanjutnya Penelitian yang serupa juga pernah dilakukan ole Yesi Oktarinadengan judul skripsi "Bentuk Pertunjukan Teater Tradisional Bangsawan oleh Sanggar Seni Harapan Jaya di kota Palembang". Skripsi yesi membahas tentang bentuk pertunjukan teater bangsawan atau Abdulmuluk di Sanggar Harapan Jaya. Persamaan skripsi Yesi dengan penelitian ini adalah mengkaji tentang Bentuk Pertunjukan Teater Transisi/tradisional, sedangkan perbedaan skripsi Yesi adalah bentuk pertunjukan teater bangsawan di Sanggar Harapan Jaya, dan penelitian penulis membahas Penyutradaraan yang berangkat dari cerita legenda daerah Prabumulih.

Selanjutnya Penelitian yang serupa juga pernah dilakukan oleh Dewi Sartika dengan judul skripsi " Penyajian Peran Isteri Dalam Lakon “Tanda Cinta” Karya N.  Riantiarno ". Skripsi Dewi Sartika  membahas tentang Bagaimana penyajian pemeranan tokoh Isteri dalam naskah Tanda Cinta karya N. Riantiarno dalam sebuah pendekatan pemeranan. Persamaan skripsi Dewi Sartika dengan penelitian ini adalah mengkaji tentang seni Peran dalam Dalam Lakon “Pusake Kujur Anjang-Anjang” Kota Prabumulih, sedangkan perbedaan skripsi Dewi Sartika  adalah bentuk penyajian pemeranan tokohIstri dalam naskah Tanda Cinta Karya N.Riatiano, di Institut Seni Indonesia PadangPanjang Prodi Seni Pertunjukan Teater. dan penelitian penulis membahas Bentuk Pertunjukan Teater Karya Sutradara Rusli Priaji Dalam Lakon “Pusake Kujur Anjang-Anjang” Kota Prabumulih, di dalam bahasannya juga penulis membahas juga pada sisi pemeranannya.

Kerangka Konseptual

Setiap daerah mempunyai teater tradisi, demikian juga dengan kota Prabumulih mempunyai teater tradisi yang salah satu nya adalah Teater Daerah Kota Prabumulih dengan naskah lakon Pusake Kunjur Anjang-anjang yang disutradarai oleh Rusli Priaji.  dan merupakan teater yang ditampilkan serta di pertunjukan pada acara Festival Sriwijaya di palembang. Bentuk Penyajian Teater Daerah Kota Prabumulih dengan naskah lakon Pusake Kunjur Anjang-anjang yang disutradarai oleh Rusli Priaji. ini terdiri dari: gerak, penari, kostum, tata rias, pola lantai, properti, musik pengiring dan tata panggung. Agar lebih mudah memahami kerangka konsep penelitian ini.


BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

Metodologi Penelitian

Tempat dan waktu Penelitian
    Penelitian ini akan dilaksanakan di kota Prabumulih pada sanggar “Tim Seni Prabumulih” selama bulan februari 2020

Objek/Informan Penelitia.
Objek penelitian ini adalah Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Lakon Kujur Anjang-Anjang, dengan topik bahasan sebagai bahan kajian adalah bentuk Penyajian Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Lakon Kujur Anjang-Anjang.

Adapun informan penelitian adalah
Nama    : Rusli Priadi
Umur    : 40 th
Alamat    :
pekerjaan    :
Nama    : Hj Suryanti Ngesti Rahayu
Umur    : 50 th
Alamat    :
Pekerjaan    :
Nama    : Hj Suryanti Ngesti Rahayu
Umur    : 50 th
Alamat    :
Pekerjaan    :


Metode Penlitian.
    Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2008:1).
    Jadi bahwa penelitian ini tentang Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Lakon Kujur Anjang-Anjang. menggunakan metode penelitian pendekatan kualitatif harus benar-benar mengamati dengan menggunakan alat sosial media seperti handphone untuk rekaman video dan foto-foto, agar mempermudah peneliti mendapatkan data yang akurat dan dapat dipercaya dalam  penelitian kualitatif. Sehingga dapat membuat gambaran secara akurat dan sistematik mengenai Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Lakon Kujur Anjang-Anjang.


Data dan Sumber Data.
Data dalam penelitian ini bersifat Kualitatif,  Lofland (1984: 47) mengatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian Kualitatif ialah kata-kata dan tindakan (dalam Moleong 2011:122). Data utama penelitian ini bersumber dari kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai terkait dengan pertunjukan senjang oleh kelompok sanggar Rengkeh kota sekayu.

Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman video, voice recorder, dan pengambilan foto. Pencatatan sumber data utama melalui wawancara atau pengamatan langsung merupakan hasil dari kegiatan melihat, mendengar dan bertanya. Sumber data tertulis dibagi atas sumber buku referensi dan dokumen pembelajaran.


Teknik Pengumpulan Data.
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan (Sugiyono, 2008:62). Adapun macam-macam teknik pengumpulan data yang akan digunakan oleh penulis  dengan cara yaitu observasi, wawancara, dokumentasi.   

Teknik Observasi.
Menurut Arikunto (2006:222), Metode observasi adalah suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis, dengan prosedur yang terstandar. Menurut Sugiyono (dalam Nasution, 2008:64), Observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Data itu dikumpulkan dan sering dengan bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil maupun yang sangat jauh  dapat diobservasi dengan jelas.

Dari penjelasan diatas maka penulis akan menyimpulkan bahwa observasi atau pengamatan adalah kegiatan pengumpulan data  untuk mengamati suatu objek yang akan diteliti dengan menggunakan indera penglihatan yang berarti tidak mengajungkan pertanyaan dan menulis data-data yang diperlukan. Kunci  keberhasilan dalam suatu observasi sebagai teknik pengumpulan data ditentukan oleh pengamat sendiri, sebab pengamat melihat dan mendengar suatu objek penelitian kemudian menyimpulkan apa yang diamati.

       Dalam memperoleh data tentang Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Anjang-Anjang. observasi dilakukan dengan cara mengamati aktivitas Aktor dan aktivitas dari koreografer nya secara langsung. Observasi langsung dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  • Menentukan jadwal penelitian, menghubungi pemilik sanggar dengan cara menelpon untuk membuat janji dan selanjutnya mengunjungi sanggar tersebut.
  • Mewawancara pemilik sanggar atau pelatih dari sanggar tersebut.
  • Menyiapkan peralatan pengamatan seperti lembar pengamatan, dan kamera.
  • Membuat catatan observasi mengenai semua peristiwa yang dialami baik yang dilihat maupun yang di dengar oleh peneliti sehingga komponen yang dibutuhkan tidak terlupakan sewaktu melakukan observasi langsung.

    Komponen yang diobsevasi meliputi aspek-aspek dari bentuk Bentuk Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Anjang-Anjang yang terdiri dari: Aktor, penari, gerak, busana/kostum, tata rias, pola lantai, properti, musik dan tata panggung.


Teknik Wawancara
         Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal  dari responden yang lebih mendalam. Wawancara dapat dilakukan secara berstruktur maupun tidak terstuktur dan dapat dilakukan melalui tatap muka maupun dengan menggunakan telepon (Sugiyono, 2008:72). Wawancara yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  • Konsep teater apakah yang digunakan dalam Pertunjukan Lakon Kujur Anjang-Anjang
  • Bagaimanakah pola lantai dan bloking dalam Pertunjukan Lakon Anjang-Anjang?
  • Apakah busana yang dipakai dalam penyajian Pertunjukan Teater Daerah Prabumulih Karya dan Sutradara Rusli Priaji Lakon Kujur Anjang-Anjan ?


Teknik Dokumentasi
         Pengumpulan data juga dilakukan secara dokumentasi yaitu dengan jalan mengutip dari sumber catatan yang telah ada.  Menurut Sugiyono (2008:82) dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumentasi yang akan dipergunakan dalam penelitian ini yaitu:
  • Foto-foto yang mengenai Lakon Kujur Anjang-Anjang yang meliputi Akting, Aktor, Musik, Pola lantai, Desain, Kostum dan Tempat Pertunjukan
  • Dokumentasi deskriptif mengenai Akting, Aktor, Musik, Pola lantai, Desain, Kostum dan Tempat Pertunjukan  dan foto-foto pada saat wawancara  dengan narasumber.
  • Rekaman video  dan foto-foto Lakon Kujur Anjang-Anjang serta  sumber lain relevan dengan permasalahan.


Teknik Keabsahan Data.
    Menurut Moleong (2007:327), Teknik pemeriksaan keabsahan data yang merupakan unsur yang tidak terpisahan terhadap keabsahan data secara cermat sesuai dengan teknik, maka jelas bahwa hasil penelitianya benar-benar dapat dipertanggung jawabkan dari segala segi.
    Menurut Moleong (2007:326), sebelum masing-masing teknik pemeriksaaan diuraikan, terlebih dahulu ikhtisarnya dikemukakan. Ikhitisar itu sendiri dari kriteria yang diperiksa dengan satu atau beberapa teknik pemeriksaan tertentu. Ikhtisar tersebut dikemukan sebagai berikut.


Perpanjangan Keikutsertaan.
    Perpanjangan Keikutsertaan artinya peneliti tinggal dilapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai, Sehingga dapat menguji, ketidak benaran informasi dan membangun kepercayaan subjek. Dengan demikian, penting sekali arti perpanjangan keikutsertaan peneliti guna beroriestasi dengan situasi, juga guna memastikan apakah konteks itu dipahami dan dihayati (Moleong, 2007:327-328).
    Pada penelitian kali ini, waktu yang diperlu sekitar 3 (tiga) bulan dalam perpanjangan keikutsertaan peneliti dalam memperoleh data tentang Pertunjukan Lakon Kujur Anjang-Anjang. Hasil ini dilakukan agar mendapatkan informasi yang akurat.


Keajengan Pengamatan.
    Keajengan Pengamatan berarti mencari secara konsisten interprestasi dengan berbagai cara dalam kaitan proses analisis yang konstan. Menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dam kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci dan teliti (Moleong, 2007:329). Dalam hal ini penulis lebih teliti dalam mengamati atau menganalisis sumber data yang telah diperoleh, sehingga dapat disesuaikan dengan bentuk Pertunjukan Lakon Kujur Anjang-Anjang kelompok kesenian Prabumulih


Triangulasi.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain, diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. (Moleong, 2007:330), Dalam triangulasi ini sangat membantu penulis dalam pemeriksaan keabsahan data tentang Lakon Kujur Anjang-Anjang dari narasumber, apakah sumber adat yang diperoleh saat ini akan berubah pada waktu yang akan datang.


Uraian Rincian.
    Dalam penelitian kualitatif, penelitian dilakukan dengan cara uraian rinci, Peneliti bertanggung jawab terhadap penyediaan dasar secukupnya yang memungkinkan seorang merenung adanya perbandingan. Teknik dituntut untuk melaporkan hasil penelitian uraian yang harus mengungkapkan secara khusus segala sesuatu yang dibutuhkan oleh pembaca agar dapat memahami temuan-temuan yang diperoleh (Moleong, 2007:337).


Teknik Analisis Data.
           Menurut Sugiyono, (2008:89) Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola orang lain. Miles dan Hub erman 1984 (dalam Sugiyono) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam Analisis data, yaitu: Data reduction ( Redusi Data), Data display (Penyajian data), dan Drawing/verification.


Data Reduction (Reduksi Data)
Reduksi data merupakan proses berpikir sensitif yang memerlukan kecerdasan dan keluasan dan kedalaman wawasan yang tinggi. Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya yang cukup banyak. untuk itu, maka diperlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah dikemukakan, semakin lama peneliti kelapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian, data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, mempermudah peneliti untuk pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.
           Dalam mereduksi data, setiap peneliti akan dipandu oleh tujuan yang akan dicapai. Tujuan utama dari penelitian kualitatif adalah pada temuan. Oleh karena itu, kalau peneliti dalam melakukan penelitian, menemukan segala sesuatu yang pandang asing, tidak dikenal, belum memiliki pola, justru itulah yang harus dijadikan perhatian penelitian dalam melakukan reduksi data. Sugiyono (2008:92-93).


Data Display.
           Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami. Dalam sebuah melakukan display data, selain dengan teks naratif, juga dapat berupa, grafi, matrik, network(jejaring kerja) dan chart.


Conclusion Drawing/Verification.
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

    Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada dilapangan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupahubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.


Jadwal Kerja.

KEGIATAN
JAN
2019
FEB
2020
MAR 2020
APR
2020
MAI
 2020
JUN
2020
USUL JUDUL






PROPOSAL






SEMINAR PROPOSAL






PERBAIKAN PROPOSAL






BAB I






BAB II






BAB III






PENELITIAN






BAB IV






BAB V






ABSTRAK






KESELURUHAN






UJIAN SKRIPSI










DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Kasim. 2006. Mengenal Teater Tradisional di Indonesia. Jakarta: Dewan
Kesenian Jakarta.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Sautu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Astuti, dkk. 2009. Zapin Api di Teluk Rhu: Tinjauan Bentuk dan Fungsi dalam
Ekspresi Jurnal Penerbitan dan Penciptaan Seni Vol 9 No 1
Eka D. Sitorus. 3003. The Art of Acting ( Seni Peran untuk Teater, Film dan TV ) Jakarta
Eko Santoso, dkk. 2008. Seni Teater ( untuk sekolah menengah kejuruan ) Jakarta
Bahari, Nooryan. 2008. Kritik Seni . Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Dharsono. 2007. Kritik Seni. Bandung: Rekayasa Sains
Hadi, Sumandiyo. 2007. Kajian Tari Teks dan Konteks. Yogyakarta: Pustaka Book  Publisher.
Hadi, Sumandiyo. 2016. Koreografi Bentuk- Teknik- Isi. Jogyakarta: Cipta Media.
Hadi, Sumandiyo. 2016. Seni Pertunjukan dan Masyarakat Penonton. Jogyakarta: Cipta Media.
Hidajat, Robby. 2005. Menerobos Pembelajaran Tari Pendidikan. Malang: Banjar Seni Gantar Gumelar.
Iryanti, E. Veronica dan Sarastiti Dian. 2012. Bentuk Penyajian Tari Ledhek
Barangan di Kabupaten Blora. Dari http://journal.unnes.ac.id/sju/index/php/jst. ISSN 2252-6625 Diunduh 01 Januari 2017.
Kartika, Sony. 2007. Kritik Seni. Bandung: Rekayasa Sains.
Moleong, Lexy. 2012. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdayakarya Offiset.
Purwatiningsih dan Ninik Harini. 2004. Pendidikan Seni Tari-Drama TK-SD. Malang:  IKIP Malang.
Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Rochayati, dkk. 2016. Menuju Kelas Koreografi. Palembang: Komunitas Lumbung Kreatif.
Setiadi, M. Elly, dkk. 2006. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Prenadamedia Group.
Simatupang, Lono. 2013. Pergelaran Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta: Jalasutra.
Sutrisna Mudji dan Hendar Putranto. 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Jogyakarta: Kanisius.
Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Warsito. 2012. Antropologi Budaya. Yogyakarta:Ombak.
Inharwati, Fitriyah. 2015. Bentuk Pertunjukan Tari Pagar Pengantin di Palembang  Sumatera Selatan. Skirpsi. Palembang: FKIP Universitas PGRI Palembang.