Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

MAKALAH PEMAHAMAN INDIVIDU METODE OBSERVASI

| September 27, 2020 WIB | 0 Views


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
Tahun Akademik 2017-2018


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha kuasa atas segala rahmat ynag di berikan-Nya sehingga tugas Makalah “METODE OBSERVASI “ ini dapat kami selesaikan . Makalah ini kami buat sebagai memenuhi kewajiban untuk memenuhi tugas.
Dalam kesempatan ini, kami menghaturkan terima kasih yang dalam kepada Dosen Mata Kuliah Pemahaman Individu , Ibu Zilla jannati, yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk mengerjakan tugas ini dan juga semua pihak yang telah membantu menyumbangkan ide dan pikiran mereka demi terwujudnya makalah ini .Akhirnya saran dan kritik pembaca yang dimaksudkan untuk mewujudkan kesempurnaan makalah ini penulis sangat hargai.
Penulis menyadari, bahwa tulisan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, karenanya saran dan pemikiran yang konstruktif sangat diharapkan, untuk revisi selanjutnya .Semoga Tuhan meridhai pengabdian ikhlas kita . Amin.
Sekian dan terima kasih


Palembang, 28 september 2017


Penulis





BAB I

Rumusan Masalah

Apa yang dimaksud dengan Observasi ?
Apa saja Bentuk-bentuk observasi?
Bagaiman cara menyusun panduan Observasi?
Apa saja Alat-alat bantu observasi ?
Bagaiman menganlisis Hasil Observasi ?
Apa saja Hal-hal yang perlu dilakukan dalam observasi?

Tujuan Makalah

Mahasiswa mampu memahami apa yang dimaksud observasi
Agar mahasiswa tau apa saja bentuk-bentuk observasi
Mahasiswa mampu menyusun panduan observasi
Agar mahasiswa tau alat-alat dalam melakukan observasi
Mahasiswa mampu menganalisis hasi observasi
Mahasiswa mampu memahami hal-hal yang perlu dilakukan dalam observasi


BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Observasi

Secara garis besar terdapat dua rumusan tentang pengertian observasi, yaitu pengertian secara sempit dan luas. Dalam arti sempit, observasi berarti pengamatan secara langsung terhadap gejala yang di teliti, Dalam arti luas., observasi meliputi pengamatan yang secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek yang sedang diteliti. Dalam rumusan di atasada satu kata kunci, yaitu “Pengamatan”.

Dilihat dari sisi psikologis, istilah “Pengamatan” tidak sama melihat, sebaba melihat hanya dengan menggunakan penglihatan (mata); sedangkan dalam istilah pengamatan terkandung makna bahwa dalam melakukan pemahaman terdapat subjek yang diamati dilakukan dengan menggunakan pancaindra, yaitu dengan penglihatan, pendengaran, penciuman, bahkan bila dipandang perlu dengan penggunaan pengecap dan peraba .

Mengapa menggunakan panca indra? Apakah tidak cukup hanya dengan salah satu indra saja ? Tidak semua genjala yang diamati bisa dikenali dengan penglihatan saja, Kadang ada gejala yang memang tidak bisa ditangkap oleh mata tetapi dengan hidung, telinga, lidah, dan sebagainnya. Di sisi lain, untuk menyakinkan hasil penglihatan kadang perlu dikuatkan dengan data dari penciuman, pendengaran, pengecapan dan peraba.

Untuk menyakinkan seorang guru bahwa murid yang sedang dilayaninya baru saja minum-minuman keras, atau tidak, guru itu bisa melihat pada perubahan wajahnya dan atau sekaligus mencium bau alkohol yang keluar dari mulut peminum itu. Bahkan manakala observasi digunakan sebagai alat pengumpul data penelitian kualitatif, maka pengamatan yang dilakukan observer bukan hanya sebatas gejala yang tampak saja, tetapi lebih jauh harus mampu menebus latar belakang mengapa gejala itu terjadi .

Nurkancana (1993:35) menyatakan bahwa observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu objek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati.
Dari pengertian tersebut dapat diidentifikasi bahwa observasi merupakan cara pengumpulan data yang :
Dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung (on the spot), sehingga pengamatan dapat dikatakan terlihat langsung secara fisik maupun psikologis.

Pengamatan tersebut ditunjukkan terhadap suatu objek yang mana objek tersebut diamati untuk memperoleh pemahaman tentang objek yang diamati.
Pengamatan dilakukan dalam kurung waktu tertentu, sebagaimana ditentukan oleh pengamat sebelum melakukan pengamatan : jam tertentu, selama kegiatan tertentu, satu minggu, satu bulan, dan satu catur wulan/semester dalam kegiatan tertentu.
Hasil pengamatan tersebut dicatat secara sistematis yaitu secara terencana dan teratur.

Stamboel (1989:137) menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan metode observasi ialah suatu pengamatan dalam jangka waktu tertentu dan dalam suatu situasi sosial yang bersifat “bebas” ataupun bermaksud dimana si subjek yidak merasa diamati, sehingga akan bertingkah laku dalam keadaan wajar.

Pengertian tersebut diatas, dapat dijelaskan bahwa:
Observasi merupakan kegiatan pengamatan.
Pengamatan tersebut dilakukan dalam jangka waktu tertentu, terbatas sebagaimana telah direncanakan : satu jam tatap muka, satu kegiatan tertentu, satu hari, satu minggu, dan satu bulan- sebagai misal.
Kegiatan pengamatan tersebut menggambil setting situasi sosial. Yang “bebas”atau subjek tidak merasa diamati, artinya tingkah laku subjek yang diamati tidak diatur dalam format kegiatan tertentu harus bertingkah laku begini atau begitu.
Dengan demikian pengamat akan memperoleh gambaran yang wajar tentang perilaku subjek yang diamati.

Sementara itu Surya dan Natadwidjaja (1997:225) menyatakan bahwa observasi sebagai teknik pengumpul data adalah pengamatan yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut : (a) dilakukan sesuai dengan tujuan yang dirumuskan lebih dahulu ; (b) direncanakan secara sistematisc; (c) hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuannya; (d) dapat diperiksa validitas, reliabilitas, dan ketelitiannya; (e) bersifat kuantitatif.

Mengacu pernyataan Surya dan Natawidjaja diatas, penulis menyimpulkan bahwa:
Kegiatan pengumpulan data dengan observasi harus dilakukan sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan, misalnya jika pengamat ditujukkan untuk mengamati perilaku siswa dalam mengikuti pelajaran dikelas, maka hanya perilaku siswa selama mengikuti pelajaran dikelas yang diamati, perilaku diluar kelas tidak diamati.

Direncanakan secara sistematis adalah bahwa pengamatan tidak dilakukan asal saja, misalnya yang akan diamati adalah perilaku seorang siswa (Burisrawa) yang mengganggu kelancaran pembelajaran berjalan-jalan dikelas, pindah-pindah tempat duduk selama pelajaran, mencolek-colek temannya, mengajak teman bicara teman sebangku dan sekelilingnya sekedar contoh tentang aspek/indekator perilaku yang menggangu diamati sehingga pengamat tidak mengamati perilaku Baladewa misalnya.

Hasil pengamatan dicatat dan diolah sesuai dengan tujuannya, maksudnya adalah bahwa apa yang diperoleh selama pengamatan dicatat dengan alat pencatat observasi apakah itu berupa rating scale ,checklist , anecdotal record, maupun mechanical devices. Berdasarkan pencatatan tersebut, pengamat selanjutnya mengolah/ menganalisis/ menginterprestasikan hasil pengamatannya sesuai dengan tujuan pengamatan, misalnya selama pembelajaran Burisrawa menunjukkan perilaku yang cukup menggangu.

Dapat diperiksa validitas , reliabilitas, dan ketelitiannya. Hasil pengamatan harus dapat dicek validitasnya (kesahihannya), misalnya apakah data tentang perilaku burisrawa yang cukup menggangu pelajaran sahih adanya ; baik menurut pengamatan guru mata pelajaran dan /teman sekelasnya. Jadi bukan didasarkan pada suka atau tidak suka pengamat terhadap burisrawa , yang menyebabkan apapun perilaku burisrawa dianggap menggangu. Demikian pula hasil pengamatan menunjukkan reliabilitas (keajekan) yaitu perilaku menggangu tersebut hanya muncul sekali saja, ataukah ada kecendrungan berulang-ulang pada setiap pembelajaran . jangan-jangan perilaku tersebut muncul karena cara guru mengajar “ kurang menarik “ bagi siswa pada umumnya, apalagi bagi Burisrawa.

jika guru pada umumnya pada waktu mengajar mengamati perilaku Burisrawa memperoleh gambaran yang sama yaitu munculnya perilaku yang cukup menggangu, maka pengamatan tersebut dapat dikatakan reliabel. Sedangkan ketelitian dalam pengamatan menunjukkan adanya kecermatan pengamat dalam melihat gejala yang muncul sampai yang sekecil-kecilnya, misalnya bagi pengamat lain atau temannya sekelas tidak menyadari bahwa perilaku burisrawa cenderung menggangu, tetapi pengamat dapat mengetahuinya secara cermat (teliti), yaitu secara tepat dan sekilas burisrawa mencolek teman didepanya tetapi pengamat dapat melihatnya.

Observasi sebagai metode pengumpulan data mempunyai sifat kuantitatif. Pengamatan atau observasi dapat dikuantifikasikan, sehingga hasilnya dapat dikembangkan untuk analisis kuantitatif terutama jika digunakan untuk perhitungan statistik. Misalnya, burisrawa dikatakan mempunyai perilaku yang cukup menggangu dalam pembelajaran karena ia selama kegiatan pembelajaran mencolek temannya tiga kali, pindah tempat duduk dengan berbagai alasan dua kali, dan berjalan-jalan dikelas empat kali.

Gall,dkk. (2003:254) memandang observasi sebagai salah satu metode pengumpulan data dengan cara mengamati perilaku dan lingkungan (sosial dan/ atau material) individu yang sedang diamati.
Pengertian observasi yang dikemukakan Gall, dkk., mengandung makna:
Observasi sebagai salah satu metode pengumpulan data. Ini berarti kalau kita bermaksud memahami seseorang, maka kita dapat melakukannya dengan mengumpulkan data individu yang bersangkutan melalui pengamatan.
Yaitu mengamati perilaku individu tersebut.

Pengamatan juga dilakukan terhadap lingkungannya , baik lingkungan sosialnya maupun lingkungan sosialnya
Dengan demikian pemahaman terhadap seseorang bukan saja dilakukan terhadap perilaku yang bersangkutan , tetapi juga lingkungan sosial dan materialnya. Pengamatan semacam ini bisa memperoleh pemahaman yang utuh, karena sering terjadi perilaku individu tidak terpisah dengan lingkungan sosialnya.

Misalnya individu yang sering terlambat datang kesekolah dapat dilatarbelakangi semata bukan karena ia males , tetapi lingkungan sosialnya tidak mendukung susana belajar: selalu bising, orang tua memberikan tugas rumah yang harus dikerjakan sebelum berangkat sekolah , rumah jauh dari sekolah dan akses angkutan umum belum banyak memenuhi kebutuhan para pelajar.

Gibson dan Mitchell (1995:260) memandang observasi sebagai teknik yang bisa dimanfaatkan untuk memilah-milah derajat dalam membuat konklusi tentang orang lain, meskipun diakui bahwa penggunaan observasi juga perlu dilengkapi dengan metode lain dalam penilaian manusia .

Pandangan Gibson dan Mitchell dapat dijelaskan sebagai berikut :
Observasi menuntut kepada pengamat untuk menempatkan orang yang diamati dalam kelompok atau golongan tertentu sesuai dengan rancangan yang ditentukan. Misalnya observer memberikan komentar atas penampilan arjuna dalam presentasi dikelas sebagai “ sudah terperinci dan jelas dengan menggunakan media teknologi komunikasi yang mudah dipahami teman-temanya ,” sementara indrajit, “penyajian dan mediannya belum runtut sehingga menimbulkan banyak pertanyaan dari teman-temanya karena menimbulkan salah tafsir”.

Dengan demikian bisa ditarik suatu simpulan (konklusi) bahwa arjuna sudah memperoleh kompetensi yang lebih baik dibandingkan dengan indrajit.
Namun dengan demikian agar observer memperoleh pemahaman yang utuh tentang orang yang diamati (misalnya arjuna dan indrajit) perlu melengkapi dengan metode yang lainya misalnya sosiometri, wawancara , tes prestasi belajar , tes psikologis sehingga dalam menilai (assessment) keduannya lebih utuh dan menyeluruh .

Dengan demikian, mengacu pada berapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa metode observasi sebagai alat pengumpul data adalah kegiatan pengamatan (secara indrawi) yang direncanakan, sistematis dan hasilnya dicatat serta dimaknai (diinterfrestasikan) dalam rangka memperoleh pemahaman tentang subjek yang diamati.

Pengertian tersebut menunjukkan karakteristik observasi sebagai berikut :
Observasi merupakan kegiatan pengamatan terhadap suatu objek perilaku subjek yang diamati.
Kegiatan tersebut pada pokoknya menggunakan dan memanfaatkan kemampuan indra pengamatan, terutama mata dan telinga .

Kegiatan pengamatan harus direncanakan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai/diperoleh .
Kegiatan pengamatan dilakukan secara sistematis yaitu dengan prosedur (urut-urutan, langkah-langkah) tertentu.
Hasilnya segera dicatat begitu pengamatan selesai, sehingga tidak lupa dan menyebabkan data pengamatan bias.
Catatan pengamatan digunakakn untuk memaknai perilaku subjek yang diamati, sehingga pengamat memperoleh pemahaman tertentu atas subjek itu.

Bentuk-Bentuk Observasi

Menurut cara dan tujuannya, Surya dan Natawidjaja (1997:226) membedakan observasi menjadi observasi partisipatif, observasi sistematis, dan observasi eksperimental.
Observasi partisipatif , ialah observasi dimana orang yang mengobservasi (pengamat, observer) benar-benar turut serta mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh orang yang diamati (observer,observi).

Misalnya guru mengamati perilaku siswa dikelas sambil mengajar, sehingga guru langsung dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa . atauu guru mengamati perilaku siswa pada saat mengikuti olahraga ekstrakulikuler dengan cara guru terlibat langsung sebagai peserta olahraga tersebut . apabila pengamat tidak mengambil bagian sama sekali dalam kegiatan orang atau objek yang diobservasi, maka observasi itu disebut observasi nonpartisipatif . misalnya guru mengamati perilaku siswa dalam diskusi, guru tersebut tidak ikut diskusi tetapi mengamati dari luar kelompok diskusi .

Observasi sistematis atau disebut juga observasi tersetruktur , ialah observasi dimana sebelumnya telah diatur struktur yang berisikan faktor-faktor yang telah diatur berdasarkan kategori masalah yang hendak di observasi. Pada observasi sistematis ini, observer sebelumnya menyusun kisi-kisi yang memuat paktor-paktor yang akan diobservasi beserta kategori masalahnya . berdasarkan kisi-kisi tersebut, observer selanjutnya menjabarkan dalam daftar cek dan/ atau sekala penilaian . apabila ia dalam suatu observasi tidak terdapat sistematika struktur kategori itu , observasi itu disebut observasi nonsistematis atau tidak terstruktur.

Observasi eksperimental, ialah observasi yang dilakukan secara non-partisisfatif dan secara sistematis, untuk mengetahui perubahan-perubahan atau gejala-gejala sebagai akibat dari situasi yang sengaja diadakan. misalnya untuk mengetahui perkembangan klien setelah dilakukan treatment dalam konseling individual (perorangan) ; konselor mengobservasi perilaku siswa tersebut yang mengalami kesulitan untuk mengemukakan pendapat dalam diskusi. Konselor merancang suatu diskusi (nonpartisipatif) beserta pedoman observasi untuk mengamati perilaku siwa tersebut dalam mengemukakan pendapat dan atau menanggapi pendapat pada saat kegiatan diskusi (sistematik). Berdasarkan pengamatan tersebut , konselor dapat membuat intrespasi tentang hasil dan perkembangan treatment terhadap klien tersebut ; apakah klien sudah berkembang atau belum kemampuannya mengemukakakn dan atau menanggapi pendapat dalam kegiatan diskusi

Jersild dan Meigs (dalam nurkancana, 1993: 36-37), membedakan obser vasi berdasarkan situasi yang diobservasi menjadi tiga jenis, yaitu yang pertama adalah observasi terhadap situasi bebas (free situation ) yaitu observasi yang dilakukan terhadap situasi yang terjadi secara wajar, tanpa adanya campur tangan dari observer . misalnya observasi yang dilakukan terhadap siswa siswi yang sedang bermain pada saat jam istirahat.

Jenis yang kedua dikatakan sebagai observasi yang dimanifulasikan (manifulated situation) yaitu observasi terhadap situasi yang telah dirancang oleh observer dengan menambahkan satu atau lebih variabel. Pada contoh diatas, variabel yang dimaksud adalah kemammpuan mengemukakan pendapat , menanggapi pendapat orang lain dalam kegiatan diskusi.

Jenis yang ketiga disebut observasi terhadap situasi yang setengah terkontrol (partially controlled). Jenis observasi ini merupakan kombinasi dari observasi yang manifulated situation dan free situation . misalnya observer melakukan pengamatan terhadap siswa-siswa yang sedang bermain dihalaman sekolah pada saat jam istirahat , pengamat memperingatkan perilaku seorang siswa ynag membahaykan siswa-siswa lainya, yaitu menabur-naburkan pasir ke sebarang arah . pengamatan itu dilakukan secara bebas, tetapi ketika muncul prilaku yang tidak diinginkan , dikontrol, sehinga tidak membahayakan .

Perlu dicatat oleh setiap observer, bahwa pengamatan dalam observasi tidak hanya proses biologis, tetapi juga psikologis ; oleh karena itu hasil pengamatan observasi akan di pengaruhi oleh beberapa hal, antara lain daya adaptasi, motipasi, prasangka dan proyeksi . untuk itu, suatu hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah materi yang akan diobservasi dan hubungan baik (rapport) antara observer dengan observi, agar pelaksanaan observasi berlangsung secara wajar. Materi observasi hendaknya sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dengan observasi, dan rapport hendaknya dibina sebelum, selama dan sesudah observasi berlangsung.

Untuk memahami individu, metode observasi ini mempunyai manfaat yang cukup dapat di andalkan, karena mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan sebagaimana dikemukakan oleh Djumhur dan Surya (1981:52). Kelebihan-kelebihan observasi sebagai berikut.

Observasi merupakan teknik yang langsung dapat digunakan untuk memperoleh data berbagai aspek tingkah laku.
Bagi observi, hal ini lebih meringankan dibandingkan dengan apabila mereka disuruh mengisi angket atau menjawab pertanyaan.
Teknik observasi memungkinkan dilakukan pencatatan yang serempak dengan terjadinya atau gejala atau kejadian penting .

Observasi dapat merupakan teknik untuk mengecek data yang di peroleh dengan teknik lain seperti wawancara, angket (kuisioner) dan sosiometri .
Denngan observasi observer tidak memeerlukan bahasa verbal sebagai alat untuk memperoleh data ,
Dengan observasi dapat diperoleh data, gejala, atau kejadian yang sebenarnya dan langsung.

Selain beberapa keuntungan sebagaimana tersebut diatas, observasi juga memiliki kelemahan-kelemahan sebagai berikut:
Banyak hal yang tidak dapat di ungkapkan dengan observasi, misalnya kehidupan pribadi yang bersifat rahasia.
Apabila siswa (atau observi lainnya ) mengetahui bahwa mereka sedang di dengan baik observasi, mungkin sekali mereka melakukan kegiatan yang tidak wajar lagi (prilakunya di buat-buat).
Observasi banyak terkandung pada faktor-faktor yang tidak terkontrol.
Faktor subjektifitas observer sukar untuk dihindari.

Menyusun Panduan Observasi

Agar observasi bisa dilakukan dengan baik, maka perlu dilakukan perencanaan secara cermat dalam bentuk panduan observasi. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam menyusun panduan observasi bisa ditempuh langkah-lngkah berikut :
Tetapkan tujuan observasi dengan selalu memerhatikan tujuan observasi diharapkan observer akan lebih terfous pada tujuan observasi dan sekaligus tidak mudah tertarik pada gejala-gejala yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan tujuan observasi.

Pastikan dan pahami materi observasi ; apakah sebenarnya yang hendak di observasi seyogiannya sudah dikuasi dengan baik oleh observer. Ibarat seorang ynag hendak membeli seekor kambing seyogiannya ia sudah tau persis gambaran kambing yang hendak dibeli , jangan sampai terjadi ingin membeli “kambing” ternyata yang dibeli adalah “anjing” meskipun sama sama berbulu dan berkaki empat.

Gali variabel-variabel observasi ; jika objek atau materi observasi itu adalah “kambing”, variabel-variabel itu adalah bagian-bagian penting yang pasti ada atau menjadi bagian penting dari binatang yang namannya “kambing” ; (misalnya kepala, badan, kaki, ekor, dan lain sebagainya). Jika benda yang hendak diobservasi itu adalah “baju”, maka pariabel yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah potongan badan, lengan, kerah, saku, model pakaian, dan corak pakaian.

Gali pula sub variabel; terkadang suatu objek bukan hanya terdiri dari satu variabel saja, tetapi ia terdiri dari sub-subvariabel; ibarat salah satu variabel dalam objek observasi adalah “kepala kambing” , maka pada kepala kambing itupun ada mata, telinga, hidung, tanduk,dan bulu. Oleh sebab itu seorang observer yang baik tentu tidak cukup bila hanya mengobservasi salah satu subvarabel kemudian hasilnya disimpulkan seolah-olah sudah seluruh variabel.

Untuk menetapkan variabel dan subvariabel observasi bisa ditempuh melalui dua cara , yaitu: (1) melakukan observasi penjajakan (finding observation) kemudian ia mengamati berbagai variabel yang mungkin dapat dijadikan bahan untuk menyusun panduan observasi yang lebih terarah; (2) penjabaran dari konsep dalam teori yang dipandang sudah mapan.
Tetapkan indekator-indekator dimaknai sebagai ciri-ciri atau karakteristik yang ada pada variabel atau sub variabel . dengan indekator yang jelas memungkinkan seorang pengamat mampu menjabarkan variabel dan atau sub variabel itu dalam panduan observasi , panduan wawancara Atau kuisioner dengan baik. Untuk itu seorang pengamat seharusnya menguasai konsep tentang variabel yang diamati itu secara baik.

Alat-alat Bantu Observasi

Beberapa alat bantu yang bisa digunakan untuk mendukung kegiatan observasi yaitu :
Daftar riwayat kelakuan atau catatan anekdod adalah suatu catatan tentang kelakuan-kelakuan individu yang dipandang istimewa dan luar biasa. Catatan semacam ini sebenarnya bukan hanya dilakukan oleh seorang konselor, tetapi bisa juga dilakukan oleh guru mata pelajaran, wali kelas, bahkan kepala sekolah. Untuk kepentingan pemberian layanan yang mendekati tepat, ada baiknya konselor (observer) juga mau memanfaatkan catatatan-catatan yang dibuat oleh teman sejawat perihal perilaku konseling, sehingga terhindar dari salah diagnosis.

Catatan berkala adalah catatan yang dibuat pada waktu tertentu, misal: pada saat individu mengikuti pelajaran upacara, kegiatan hiking, karya wisata, studi tour, perkemahan kunjungan ke industri atau panti dan sebagainya. Catatn ini dapat dibuat oleh konselor, guru mata pelajaran atau wali kelas. Yang kemudian di himpun untuk menggambarkan kesan-kesan umum tentang individu yang diobservasi.

Daftar cek adalah suatu daftar yang berisi nama subjek dan aspek-aspek (subvariabel) yang hendak diobservasi. Pembuatan daftar cek dimaksudkan untuk membuat pencatatan hasil pengamat (observasi ) yang sistematis, dan observer hanya memberi tanda cek pada aspek-aspek yang sedang di observasi . Dalam daftar cek suatu gejala hanya dicatat ada atau tidak ada.

Skala penilaian merupakan pencatatan gejala menurut tingkatanya. Suatu aspek (variabel/subvariabel) bukan hanya dicatat ada atau tidak ada, tetapi lebih dari itu adalah kualitas atau tingkatanya.
Alat-alat pencatat mekanik dapat digunakan sebagai alat bantu dalam kegiatan observasi, alat-alat tersebut misalnya tape recorder, vidio kamera, tustel, komputer, dan film. Tujuannya adalah agar kita memperoleh gambaran yang jelas terhadap suatu kegiatan/perilaku yang dilakukan observasi. Dengan alat-alat mekanik tersebut, konselor atau pengamat dapat mengetahui kegiatan atau perilaku individu pada waktu diskusi, karya wisata, kemah bakti dan sebagainya ; yang pada suatu saat dibutuhkan dapat dilihat kembali untuk kepentingan pemahaman individu.

Analisis Hasil Observasi

Observasi dapat dilakukan untuk individual maupun kelompok . mengacu pada pedoman observasi yang disajikan dalam contoh dibuku ajar ini seorang konselor dapat memahami subjek setelah melakukan analisis data berdasarkan fakta yang diperoleh dari kegiatan observasi.
peristiwa merupakan fakta yang sebenarnya terjadi yang bisa kita tangkap dengan panca indra. Sementara interpretasi merupakan makna yang diberikan oleh observer atas peristiwa yang terjadi.konselor menginterpretasikan setelah melakukan investigasi (pelacakan) dan kajian lebih lanjut atas peristiwa yang terjadi. Informasi yang diperoleh dari pelacakan dan kajian tersebut di interpretasikan sebagai cermin pemahaman individu oleh konselor.
Hasil observasi perlu dianalisis agar diperoleh simpulan yang bermakna , sehingga data onservasi dapat dimanfaatkan untuk keperluan bimbingan dan konseling.

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pelaksanaan Observasi

Menggunakan metode pelengkap;
Perlu dipahami bahwa prilaku manusia bukan sekedar apa yang dapat kita amati, tetapi lebih dari itu adalah berbagai motif yang mendorong munculnya perilaku individu tersebut, sebab bisa jadi perilaku yang muncul sama tetapi motif yang melatar belakanginya berbeda. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan inpormasi  lengkap seyoginya penggunaan observasi perlu dilengkapi dengan metode lain seperti wawancara, kuisioner , dan studi dokumentar.

Pengklasifikasian gejala;
Mengingat data yang diperoleh dari kegiatan observasi bisa sangat banyak dan beragam, seyogianya observer melakukan pengklasifikasian gejala guna memudahkan analisis. Pengklasifikasian tersebut hendaknya mendasarkan pada Variabel dan sub-subvariabel sebagaimana kegiatan penelitian.

Pemanfaatan alat pencatat data ;
Ada beberapa alat pencatat data yang bisa dimanfaatkan observer, antara lain: catatan harian, daftar cek, dan beberapa alat bantu observasi.

Menjaga hubungan baik dengan observi;
Sebelum,selama pelaksanaan dan sesudah observasi seyoginya observer selalu menjaga hubungan baik dengan observi dan memelihara kewajaran situasi, sebab hubungan yang tidak baik antara observer dengan observi dapat menggangu kegiatan observasi . seperti resistensi, kurang semangat . hubungan baik setelah observasi pun perlu dijaga agar tidak ada kesan “ Habis Manis Sepah Dibuang”, dan siapa tau konselor perlu observasi ulang untuk melengkapi data.

Libatkan beberapa observer ;
Untuk menjaga objektifitas hasil pengamatan, sebaiknya observasi bukan hanya dilakukan oleh seseorang observer saja, tetapi melibatkan lebih dari satu observer, kemudian hasilnya dibandingkan dan disimpulkan bersama-sama.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Observasi adalah kegiatan pengamatan (secara indrawi) yang direncanakan, sistematis, dan hasilnya dicatat serta dimaknai (diinterpretasikan) dalam rangka memperoleh pemahaman tentang subjek yang diamati. Menurut cara dan tujuannya observasi dibedakan menjadi : observasi partisifatip, observasi sistematis, observasi eksperimental.

Berdasarkan situasi yang diamati, observasi dibagi menjadi tiga jenis yaitu : observasi terhadap situasi bebas, observasi yang dimanifulasikan dan observasi terhadap situasi yang setengah terkontrol. Observasi dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: tentukan tujuan observasi, pastikan dan pahami materi observasi, gali variabel-variabel, gali pula subvariabel, tetapkan indekator.

Saran

Agar kegiatan observasi dapat berjalan dengan baik, ada beberapa alat bantu yang bisa digunakan untuk mendukung observasi yaitu: daftar riwayat kelakuan atau catatan anekdot, catatatn berkala, daftar cek, skala penilaian dan alat-alat bantu mekanik seperti kamera digital , CCTV dan sebagainya. Hasil observasi perlu dianalisisi agar diperoleh simpulan yang bermakna, sehingga data observasi dapat dimanfaatkan untuk keperluan bimbingan konseling . mengingat observasi memiliki kelebihan dan keterbatasan.

Setiap konselor hendaknya : menggunakan metode pelengkap ,pengklasifikasian genjala, pemanfaatan alat pencatat data , menjaga hubungan baik dengan observi dan libatkan beberapa orang observer.

DAFTAR PUSTAKA

Djalali, M.A. 1986. Teknik-teknik Bimbingan dan Penyuluhan. Surabaya: Bina ilmu.
Djumhana, A. 1983. Metode Observasi Dalam Konseling (kumpulan naskah dalam: Materi Dasar Pendidikan Program Bimbingan Dan Konseling Di Perguruan Tinggi). Jakarta: Depdikbud. Dirjen Dikti.
Gall, M.D., dkk.2003. Educational Research an Introduction. New York: Pearson Education.
Gibson, R.L. dan Mitchel,M.H. 1995. Introduction to Counseling and Guidance (fourth Edition). New Jersey: Prentice Hall.
Surya,M. Dan Natawidjaja, R. 1997. Pengantar Bimbingan Dan Penyuluhan. Materi Pokok DKEP2211/2SKS/Modul 1-6. Jakarta: Universitas Terbuka.