Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Makalah Asesmen Dan Evaluasi Pembelajaran Di TK

| September 27, 2020 WIB | 0 Views



BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Menurut Ralph Tyler (1950) menyatakan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai.

Evaluasi pembelajaran diartikan sebagai evaluasi terhadap proses belajar mengajar. Secara sistematik, evaluasi pembelajaran, yang mencakup komponen input, yakni perilaku awal siswa, komponen input instrumental yakni kemampuan profesional guru/tenaga kependidikan, komponen kurikulum (program studi, metode, media), komponen administratif (alat, waktu dan dana), komponen proses ialah perosedur pelaksanaan pembelajaran, komponen output ialah hasil pembelajaran yang menandai ketercapaian tujuan pembelajaran, dalam hal ini perhatian ditujukan hanya pada evaluasi terhadap komponen proses dalam kaitannya dengan komponen input instrumental.
Pada lembaga penyelenggara pendidikan evaluasi dan asemen sangat diperlukan karena dapat menjadi alat bantu bagi pendidik untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam kegiatan pembelajaran. Namun pada kenyataannya seringkali pelaksanaan evaluasi dalam sebuah program pendidikan hanya dijadikan formalitas, sekedar memenuhi aturan kedinasan atau menjawab keingintahuan orangtua akan perkembangan anaknya.

Evaluasi dan asemen dalam kegiatan pembelajaran adalah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, karena kompetensi ini sejalan dengan tugas dan tanggung jawab seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karenanya sangat penting bagi guru
untuk berusaha memahami evaluasi dan asesmen demi tercapainya tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

Penilaian atau evaluasi di TK merupakan usaha mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan serta menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan daan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui kegiatan belajar. Penilaian ini juga merupakan upaya untuk mendapatkan informasi atau data secara menyeluruh yang menyangkut semua aspek kepribadian anak terhadap proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai melalui proses pembelajaran, meliputi perkembangan fisik motorik, sosial, emosi, kognitif, moral, dan nilai-nilai agama, serta seni.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah, sebagai berikut:
Apa kaitan asesmen dan evaluasi pembelajaran di TK dengan prinsip-prinsip anak usia dini?

Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui kaitan asesmen dan evaluasi pembelajaran di TK dengan prinsip-prinsip anak usia dini.


BAB II

PEMBAHASAN

Kaitan asesmen dan evaluasi pembelajaran di TK

Dengan prinsip-prinsip anak usia dini
Bekerja dengan anak usia dini, memerlukan kerangka kerja yang jelas sesuai dengan karakteristik anak usia itu, Anda sebagai guru TK akan dengan mudah membentuk kerangka kerja itu jika sudah memahami prinsip-prinsip AUD yang terinternalisasi dalam jiwa, bukan sekedar pernah membacanya.
Evaluasi kemajuan belajar anak selalu dikaitkan dengan tujuan program belajarnya sebagai tolak ukur, dan evaluasi perkembangan anak selalu dikaitkan dengan arah tujuan ke arah pola perkembangan akhir sebagai tolak ukur sesuai usia dan individunya. Persoalannya sekarang ialah bagaimana membentuk kerangka kerja asesmen dan evaluasi pembelajaran anak TK yang seiring dengan prinsip-prinsip AUD. Untuk menjawab persoalan itu, berikut ini akan dikemukakan lebih dulu sepuluh prinsip-prinsip anak usia dini.

Sepuluh prinsip umum anak usia dini tersebut adalah :

  1. Masa kanak-kanak adalah bagian dari hidup dan kehidupannya, bukan sekedar persiapan kehidupannya yang akan datang;
  2. Keseluruhan diri anak secara utuh itu penting;
  3. Belajar bagi anak itu terpadu;
  4. Motivasi intrinsik perlu diberi penghargaan;
  5. Disiplin anak perlu diperhatikan;
  6. Ada kurun waktu khusus reseptif untuk belajar;
  7. Titik berangkat pendidikan anak pada apa yang dapat dilakukannya;
  8. Ada inner life anak (kehidupan dalam diri) yang muncul dalam kondisi yang cocok;
  9. Orang-orang perlu berinteraksi dengan anak; dan
  10. Pendidikan anak adalah interaksi antara anak dengan lingkungannya.


Dengan memperhitungkan kesepuluh prinsip umu anak usia dini tersebut, termasuk anak TK, maka kerangka kerja evaluasi dan asesmen yang cocok untuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dapat dirumuskan sebagaimana uraian di bawah in.
Masa kanak-kanak adalah sebagai bagain dari kehidupan, juga sebagai persiapan bagi masa yang akan datang
Dalam evaluasi dari asesmen, berarti bahwa yang ditawarkan kepada anak didik harus relevasi dengan pengetahuan yang akan datang, juga cocok untuk saat ini.

Keseluruhan diri anak didik merupakan hal yang penting
Semua aspek perkembangan anak yaitu aspek fisik, sosioemosional, kognitif intelektual dan bahasa, mempunyai implikasi multiprofesional. Artinya dibutuhkan berbagai bidang keahlian untuk dapat memahami aspek-aspek perkembangan anak tersebut. Misalnya tentang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial, psikologi, dan berbahasa anak harus diarahkan dengan baik dan benar dengan merujak kepada ahlinya. Semua itu saling berkaitan dalam penanganan pendidikan anak. Informasi tentang semua aspek perkembangan anak memungkinkan dibuat diagnosis lebih awal tentang permasalahan yang muncul. Selain itu dianalisis kebutuhan anak secara khusus baik yang sifatnya temporer maupun permanen juga akan lebih efektif. Misalnya analisis kebutuhan tentang kesehatan umum, sanitasi, pemeriksaan gigi untuk pencegahan atau penyembuhan, atau penanganan anak penyandang cacat berkebutuhan khusus.

Belajar dan pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan (tidak kompartemental), melainkan terpadu (integral)
Prinsip ini cocok dengan KBK yang terpadu dan luas. Prinsip ini akan menjadi alat kontrol bagi guru untuk menilai dan mengakses memadai tidaknya kurikulum yang dipakai. Konteks yang luas dalam KBK memungkinkan anak mempraktekkan pikirannya yang baru muncul dalam berbagai setting lingkungan. Oleh karena itu guru TK harus memahami dan menghayati esensi KBK.

Motivasi

Motivasi intrinsik yang diprakarsai anak dan kegiatannya yang dilakukan atas inisiatif sendiri harus diberi nilai atau penghargaan
Motivasi bisa berasal dari luar (motivasi ekstrinsik) atau dari dalam (motivasi intrinsik). Mengakses (mencari data) apakah anak itu mampu berprakarsa dan berkemauan sendiri, atau justru bergantung pada orang lain dalam melakukan sesuatu tentu saja menuntut suatu pengalaman yang intensif, lekat namun penuh keakraban. Dalam pengamatan tersebut, guru juga perlu mencatat apa yang dipilih anak untuk dikerjakan dari beberapa kegiatan yang ditawarkan, atau pekerjaan apa yang spontan menarik bagi anak-anak. Jadi, guru juga berfungsi sebagai pengamat yang Terampil dan Berpengetahuan (PTB). Berdasarkan pengamatan tersebut akan diperoleh petunjuk tentang hal-hal apa saja yang mendorong motivasi intrinsik anak. Bagaimana agar kegiatan bercakap-cakap, bercerita dan kerja kelompok kecil dapat meningkatkan prakarsa dan motivasi anak juga dapat diperoleh datanya melalui pengamatan. Jadi, kegiatan pembelajaran perlu disusun atas dasar motivasi intrinsik anak, bukan motivasi guru. Dengan demikian, anak tidak merasa dikuasai atau dikekang keinginannya karena pengaruh guru yang terlalu dominan. Inilah hakikatnya tugas seorang pendidik, tidak cukup sebagai guru yang memberikan ilmu saja.

Sikap

Sikap didik anak perlu diperhatikan
Pendidikan perlu mengamati dan sesekali mencatat seberapa sering dirinya mengawasi dan mendisiplinkan anak didiknya, dan seberapa jauh anak bisa mrndisiplinkan dirinya sendiri dan mengendalikan diri (sebagai respons). Hal ini penting, trutama jika ada masalah perilaku anak. Jika perilaku anak bermasalah, penanaman disiplin harus dilakukan dengan lembut, hangat dan ramah. Hindarkan cara yang keras, kasar dan terkesan menggurui. Jika anak mengalami kemajuan dalam hal disiplin dirinya, catatlah dan beritahukan kemajuan tersebut padanya sehingga akan meningkatkan harga diri (self-esteem) dan konsep diri (self-concept) anak yang positif.

Ada kurun waktu tertentu bagi anak untuk lebih mudah belajar (masa peka belajar)
Tidak mudah mengenali tanda masa peka anak untuk belajar sesuatu. Masa peka belajar tersebut muncul pada usia dan tahap yang berbeda sesuai perkembangan tiap anak. Jika gurunya makin bisa memastikan tahap perkembangan anak didiknya akan makin baik. Masa peka anak yang segera dikenali guru akan membantu guru untuk segera menolong proses belajar anak. Pengenalan ini tergantung pada konsep teori yang dianut dan pengalaman sesuai aspek dan usianya, akan menolomg memastikan tahap perkembangan anak. Salah satu tabel perkembangan yang dapat digunakan adalah skema dari Piaget yang merinci mengenai pola perkembangan anak menurut usia dan aspek-aspek perkembangannya, mempelajari cara anak memanfaatkan lingkungan dan cara anak merespon prakarsa gurunya. Tabel tersebut akan membantu dalam menganalisis catatan pengamatan guru yang ditulis secara rinci sehingga akan tampak tanda-tanda masa pekanya untuk mempelajari sesuatu. Ibarat ingin menolong orang yang tersesat di tengah hutan, maka kita harus tahu dengan tepat di mana dia berada.

Titik awal pendidikan anak dimulai dari hal – hal yang mampu dilakukannya, bukan dari hal – hal yang belum mampu dilakukannya
Esesmen untuk mengetahui apa saja yang sudah dapat dilakukan anak memerlukan prosedur sumatif. Anak yang tanpa bantuan orang dewasa tiba-tiba mampu melakukan sesuatu sering dikatakan “intuitif” , misalnya bisa menggunakan gunting untuk memotong sesuatu. Tetapi ini baru setengah dari perkembangannya, masih perlu bimbingan dan latihan melalui kegiatan bersama dengan orang dewasa dan teman-teman sebayanya untuk menghaluskan perkembangan tersebut. Untuk mengases keadan itu diperlukan prosedur asesmen formatif. Biasanya untuk menunjukkan apa yang telah dicapai anak diadakan semacam pameran di ruang pendidikan atau di ruang kelas. Pamaeran tersebut memajang hasil kerja dari hal-hal yang telah dapat mereka lakukan, dan tiap hasil karya diberi tanda nama pembuatnya. Bukti-bukti nyata (empirik) semacam itu sangat mendukung prinsip ketujuh ini. Perbedaan jenis kemampuan anak ini juga dimungkinkan karena perbedaan gaya belajarnya: ada yang auditif, visual, taktil atau kombinasinya. Pada prosedur formatif dapat juga diamati pemahaman anak tentang peraturan dan implikasi moralnya, yang terlihat pada pola prilakunya.

Ada kehidupan dalam diri (inner life) anak yang akan muncul pada kondisi yang sesuai
Seperti gunung es yang nampak ke permukaan hanya 1/10 nya, proses simbolik yang muncul dari anak dan mampu kita amati belum mencakup keseluruhannya. Hal itu tentu tidak cukup mewakili sebagi bukti nyata perkembangannya. Oleh karena itu perlu keterampilan matang untuk menstimulasi munculnya keseluruhan fungsi simbolik itu dan untuk meningkatkannya dalam tahun-tahun awal anak. Guru perlu terus mencatat apa saja yang telah dilakukan anak, misalnya saat anak bercakap-cakap, bertanya, mengomentari lukisannya sendiri atau tarian teman, dan lain-lain. Simpanan catatan (record keeping) tersebut merupakan “gunung-es” yang perlu diases selengkapnya, sebagai bukti perkembangannya.
Pekerjaan tersebut tentu menuntut waktu, kerja keras, kesabaran dan ketekunan. Memotretnya, membuat buku minat untuk tiap anak atau mengumpulkan gambar buatan anak didik dapat memberikan catatan penting yang dapat ditunjukkan kepada keluarganya atau pihak lain yang memerlukan bukti perkembangannya yang berfungsi sebagai pelaporan. Biasanya, hasil kerja anak itu dikumpulkan dalam portofolio yang mudah diakses oleh anak, temannya dan pendidiknya. Hal itu mendorong anak merefleksi/merenungkan pekerjaannya yang telah dilakukam dalam  kurun waktu tertentu dan ytang baru dilakukan, dan akan memberikan gambaran jangka panjang tentang apa yang sudah dipelajarinya. Simpanan catatan semacam ini merupakan bagian integral darin praktik pendidikan, dan akan menjadi suatu kesenangan bersama yang berharga. Oleh karena itu para guru perlu mengarahkan evaluasi dan asesmen secara positif, begitu juga anak dan keluarganya.

Interaksi

Orang –orang yang berinteraksi dengan anak didik memegang peran yang sangat penting
Asesmen perkembangan anak hanya mungkin dilakukan jika karya-karya yang dipamerkan di ruang display atau didalam buku adalah hasil karya anak sendiri. Jangan menganggap rendah apa yang telah dapat dilakukan anak, yaitu dengan cara memamerkan gambar, yang bukan buatan anak sendiri, meskipun menarik. Sebaliknya pameran hasil karya yang dilakukan anak sendiri dengan didukung oleh orang dewasa, justru menunjukkan apa yang dapat dilakukan anak. Guru dapat memperindah hasil karya tersebutb dengan memghias, membingkai, menata ulang atau membuat penjelasan tentang isi atau proses karya anak tersebut. Hal ini menunjukkan perang orang dewasa sebagai pendukung apa yang dapat dilakukan anak. Vygotsky menyebut perang orang dewasa tersebut dalam “Zona Perkembangan Potensial” anak.

Pendidikan anak merupakan interaksi antara anak dengan lingkungan, yaitu orang lain dan pengetahuan itu sendiri
Seperti diketahui bahwa kurikulum AUD terdiri dari tiga aspek, yaitu:
Anak didik.
Wilayah/daerah/domain pegetahuan yang harus diajarkan atau Domain Belajar Uama (DBU) dan perilaku yang harus dididikkan atau Domain Belajar Fundamental (DBF), dan
Lingkungan (milieu) tempat terjadinya proses pendidikan yaitu orang, tempat, objek dan periwisata.
Oleh karena itu evaluasi dan asesmen diarahkan pada bagaimana caranya agar DBU, DBF dan lingkungan dapat dikenalkan pada anak secara efektif. Salah satu model pembelajaran yang cocok untuk memadukan semua itu adalah model interaksionis konstruktivis.

Prinsip - Prinsip AUD

Prinsip – prinsip AUD tersebut mempunyai implikasi bagi evaluasi dan esesmen. Implikasi prinsip AUD bagi evaluasi adalah seperti dibawah ini.
Perlu dibuat garis-garis perkembangan dalam setiap bidang pengetahuan (DBU) dan bidang perilaku (DBF), dimulai dari apa yang anak itu mampu melakukannya.
Perlu diperhatikan keluasan kurikulum dalam menyimpan catatan (record-keeping), jangan sampai ada yang terlewatkan.
Proses pembelajaran yang berlangsung di kelas harus berguna bagi anak, jangan sampai membebani anak maupun pendidik.
Pameran hasil karya anak dikelas harus dipandang sebagai simpanan catatan (record-keeping) tentang perkembangan, belajar, proses dan hasil yang dicapai anak, bukan menunjukkan kemampuan seni dari guru yang menggunakan karya anak untuk kepentingannya sendiri.

Sedang implikasi prinsip-prinsip AUD untuk asesmen dalam upaya mengumpulkan bukti dapat diuraikan dibawah ini.
Perlu diperhatikan pendekatan multi-profesional (dari berbagai bidang keahlian) pada cara menyimpan catatan (record keeping). Upayakan agar informasinya komprehensif. Dalam kasus anak berkebutuhan khusus, pendekatan multiprofesional sangat penting untuk menunjukkan dengan jelas kekuatan dan kelemahan diri anak sehingga program pembelajaran dapat efektif.
Penyimpanan catatan perlu merekam proses saat anak berprakarsa atau tertarik melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dalam hal yang dia mampu. Catatan dan pameran karya yang terintegrasi akan membantu guru dalam meningkatkan motivasi anak.
Penyimpanan catatan tentang tahap perkembangan anak harus terinci untuk membantu guru menyediakan materi atau media pembelajaran yang sesuai
Penyimpanan catatan perlu merekam semua yang dapat dicapai anak dengan atau tanpa bantuan guru. Catatan tersebut hendaknya mengutamakan kelebihannya terlebih dahulu baru kekurangannya, agar kekurangannya, agar kekurangannya dapat ditangani melalui berbagai kelebihan yang ada.
Kaitan-kaitan yang dibuat anak ke berbagai bidang pengetahuan perlu dicatat secara berkesinambungan, misalnya catatan mengenai cara anak memanipulasi berbagai alat dan bahan di sekitarnya.


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa antara evaluasi dan asesmen memang memiliki kesamaan yaitu sama-sama untuk menilai. Tapi jika dilihat lagi antara asesmen dan evaluasi memiliki sedikit perbedaan. Evaluasi adalah suatu penilaian dengan melihat proses yang dilakukan anak dan hasil yang telah dibuat anak dari sebuah proses pembelajaran. Sedangkan asesmen merupakan penilaian yang melihat hasil akhir dari pembelajaran anak saja. Perbedaan inilah yang membuat asesmen menjadi bagian dari evaluasi. Hal ini juga berkaitan dengan kesepuluh prinsip umum anak usia dini tersebut, termasuk anak TK, maka kerangka kerja evaluasi dan asesmen sangat cocok untuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Saran

Diharapkan pada praktik dalam mengetahui kaitan asesmen dan evaluasi pembelajaran di TK dengan prinsip-prinsip anak usia dini ini, guru TK akan dengan mudah membentuk kerangka kerja asesmen dan evaluasi jika sudah memahami prinsip-prinsip AUD yang terinternalisasi dalam jiwa, bukan sekedar pernah membacanya.


DAFTAR PUSTAKA

Waseso, Iksan dkk.    . Evaluasi Pembelajaran TK. Universitas Terbuka.
http://yananovita13.blogspot.com/2014/12/evaluasi-pembelajaran-di-tk.html