Manusia Berpikir, Tuhan Tertawa


Salah seorang teman saya sekonyong-konyong menyebut saya kafir lantaran mengutip sebuah kalimat yang sekaligus saya jadikan judul dalam artikel ini, "Manusia Berpikir, Tuhan Tertawa."

Saya menduga bahwa teman saya itu menyebut saya kafir lantaran kutipan itu berasal dari pepatah Yahudi. Pepatah itu sendiri saya kutip dari Milan Kundera. Ternyata dugaan saya benar, bahwa teman saya itu sangat tidak setuju ketika saya mengambil kutipan dari dari Yahudi tersebut. Saya hanya tersenyum. Padahal, awal mula dari diskusi saya dengannya adalah terkait film Joker.

Dalam film itu, Arthur Fleck mengatakan, “I used to think my life was a tragedy, but now I realize it's a comedy."

Kurang lebih begini artinya, "Aku biasa berpikir hidupku adalah tragedi, tapi sekarang aku sadar hidupku komedi".

Ya. Kami sebenarnya sedang membahas kalimat itu. Saya mengatakan padanya bahwa hidup ini memang komedi, senda-gurau, permainan, yang diciptakan oleh Allah sebagai Rabbulallamin. Tuhan yang menciptakan, mengatur sekaligus menghancurkan alam semesta ini termasuk kehidupan di dalamnya.

Pembahasan kami sampai akhirnya sampai kepada makna islam sebagi sebuah ketundukan, kepasrahan. Saat membahas itu, saya mengatakan bahwa ketundukan yang dimaksud adalah ketundukan akal manusia, ketundukan dalam berpikir. Maka ada sebuah hadist yang mengatakan, "Tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak berakal."

Ketundukan tersebut akan bermuara kepada aqidah serta tauhid. Orang yang berislam, sudah seharusnya menundukkan akal dan pikirannya. Dalam artian, sejauh apapun akal mengembara, setinggi apapun pemikiran manusia, tetap saja ujung dari pengembaraan itu adalah Allah Rabb Semesta Alam.

Dari sinilah lalu saya mengutip pepatah Yahudi tersebut, "Manusia Berpikir, Tuhan Tertawa."

Bagi saya, Kecerdasan spiritual adalah aqidah dan tauhid di mana seorang muslim sadar betul bahwa hakikatnya dia harus menundukkan akal serta pikirannya. Ketundukan inilah yang akan membawa seseorang semakin memahami realitas Allah, bukan memandang Allah sebagai konsep yang abstrak.

Ketika manusia mengembara dengan pemikirannya, tanpa ada benteng islam sebagai sebuah ketundukan, maka manusia akan diperbudak akal sehingga sangat mungkin terjerumus ke dalam atheisme. Oleh sebab itulah saya setuju dengan pepatah Yahudi di atas.

Ketika manusia enggan menundukkan akalnya dan selalu berpikir dengan akal yang terbatas tanpa adanya sekat bernama islam (sebagai sebuah konsep, bukan sekadar nama sebuah agama), saat itulah hidup manusia akan menjadi ruwet, menjadi kacau. Padahal, agama memiliki makna tidak kacau.

Inilah yang membuat sebagian Fisikawan dan filosof barat menjadi keblinger. Mereka mendewakan akal. Mendewakan proses berpikir sehingga menganggap dunia ini sebagai sesuatu yang absurd. Hal itu membuat adanya konsep Tuhan sebagai sesuatu yang abstrak, susah dimengerti dan bahkan Tuhan sebagai sebuah dongeng, tidak nyata.

Maka muncullah kalimat "Tuhan Telah Mati" dari Nietzsche. Saya mengartikan kalimat itu sebagai sebuah konsep di mana seseorang telah menjadikan akal sebagai satu-satunya sumber kebenaran sehingga meniadakan Tuhan di dalamnya. Atau jika saya memakai makna islam sebagai ketundukan berpikir, kalimat itu berarti bahwa seorang muslim yang enggan menundukkan akalnya sama saja sudah menghilangkan eksistensi Allah dalam kehidupannya. Padahal, bukankah "Kami lebih dekat dari urat leher?

Baca juga